Monday, January 13, 2020

Review Buku Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir


BACALAH bila anda membutuhkan bacaan sarat mana, bak buku sejarah nan runtut Peter Carey, strategi militer modern Tom Clancy, dirangkai bacaan kaya syariat Kang Abik (Habiburahman el Shirazi) dipadu dengan mengalirnya tautan kata-kata khas Ustadz Salim A. Fillah yang tidak ada duanya. Dibuka dengan kisah kesederhanaan, kebersahajaan, namun tingginya budi pekerti kaum Jawa di abad 19an.
BACALAH kisah perjuangan Pangeran Diponegoro dalam menggalang dukungan pada ulama, bangsawan sampai rakyat kebanyakan. Serasa Sang Pangeran ada di hadapan kita, berwirid, kemudian dengan gagahnya menunggang Kyai Gentayu untuk menghadang tentara kolonial. Penggambaran sosok dan kepribadian Sang Pangeran yang begitu dicintai rakyatnya, sehingga sayembara senilai 20.000 Gulden, gelar kehormatan dan tanah untuk hadiah penangkapannya pun tidak ada yang sudi menyambut.
BACALAH latar belakang dari Patih Danurejo IV, yang berlatar belakang santri, sahabat Sang Pangeran dan seorang administrator ulung yang berubah menjadi pejabat yang tamak dan rakus, yang menjadi salah satu ihwal perang paling akbar yang terjadi di Nusantara. Menjadikannya bola salju hingga menggelindingnya kemerdekaan Indonesia. Menjelaskan bagaimana efek perang Diponegoro ini menautkan berbagai peristiwa, yang berujung kemerdekaan Nusantara 12 dasawarsa kemudian.
CERMATI pula hipotesis tentang kehadiran nyata para ksatria terakhir Jannisary ke nusantara pada masa restrukturisasi kemiliteran di Turki Ustmani pada masa pemerintahan Sultan Mahmud II, melalui Kisah Basah Katib, Basah Nurkandam, Nuryasmin, Murad dan Orhan yang bukan hanya bumbu cerita. Penerapan gelar kepangkatan dari Ali Pasha sampai dullah, tata aturan kepangkatan militer Jannisary yang tidak bisa dipungkiri.
PELAJARI detail, latar belakang dan tindak tanduk para tentara Belanda, bangsawan, sampai para tokoh pendukung dituliskan sampai tandas. Kisah di balik motif politis dan taktik Jendral Henrick Merkus de Kock dan kompatriotnya dalam menghadang laju gerak dan menjebak Sang Pangeran dalam perundingan palsu.
Nyaris tanpa cela dalam memaparkan aneka dialog, Bahasa Belanda, Inggris, Turki, maupun bermacam dialek Jawa. Indah membaca tautan katanya, satu-satunya yang berhasil ditemukan salah ketik cuma di hal 400, dimana nama Basah Katib tertukar dengan Basah Nurkandam. Alangkah indahnya bila penggambaran batik, keris ataupun struktur bangunan, kiranya dilengkapi sketsa akan lebih memaripurnakan tulisan yang ada.
Dan sesuai janji Basah Katib alias Ustadz Salim sendiri yang menembus dimensi ruang dan waktu saat menjenguk Sang Pangeran di Fort Rotterdam di pengasingannya, janji menulis tentang Kisah Sunan Kalijogo, Sultan Agung dan Sultan Hamengkubuowo I sudah menunggu untuk segera di tuntaskan. Maktub.
Bacaan novel berbalut sejarah dan perjuangan Nusantara yang SANGAT DIREKOMENDASIKAN untuk setiap generasi, utamanya generasi perindu persatuan Nusantara yang makmur, berkeadilan dan sejahtera. Akhirnya, ijin kan kami menceritakan kembali kisah perjuangan Sang Pangeran beserta para ksatria nya pada ananda-ananda kami. Sesuai bisyarah, kalaupun bukan pada sisa masa hidup kami,  semoga Allah karuniakan di tangan anak cucu kami,  bangsa yang berkulit kecoklatan, bertinggi  sedang, dan tidak mancung ini (tambahan redaksi : gampang masuk angin, berani mati, namun takut lapar) dapat andil untuk memimpin tonggak peradaban ini. Semoga kami dapat segera memantaskan diri untuk menggapainya. Aaamiin ya Rabb.
Hayuuuk semua baca Sang Pangeran @proumedia 🙏😊 #semuabacasangpangeran #sangpangeran #diponegoro #sangpangerandanjanissaryterakhir

Tuesday, December 31, 2019

Personal Statement (contoh saja ya)


Personnel Statement

When I was 4 years old, I ran away from home, forcing to attend school. I refused when my father was asking me to come back home, then he allowed me to continue to school and told me, “find the thing you love the most and do it passionately. Put your heart and soul into it and, it will pay off nicely one day”. Then, I became the best graduate of elementary school, junior high school, senior high school and top 10 graduate of ITS majoring in environmental engineering.
I am currently working as EHS (Environmental, Health & Safety) superintendent for a multinational company, with more than 15 years of experiences in the EHS matters, leading EHS department for 7 mining projects in Indonesia, being the youngest chairman of neighborhood in Balikpapan, founder and board members of 2 foundations of education, active as an effective trainer, and a talented writer. Is it over yet? Hopefully not, continuing education to post graduate in environmetal engineering, or it related field will be a bridge to take my next destiny and go the extra mile.
My nick name is Unggul (“Superior in English”), my parents were tough me to be an honest, disciplined and aspiring person. According to our belief, the man who gets the highest level is the most beneficial human being for others. I am willing to reach this level. The real thing exemplified by my parents.
In June 2003, I have started a huge step, together with a group of Environmental Engineering students, we held a partnership with the Senior High School in Surabaya to begin the "Green Generation" program, forum for young students to take an active role in the environment. We held some proactive activities, such as planting thousands of trees, socialization to surrounding communities about waste separation and introduction of composting. This program is continued until now, by holding regular education and environmental awareness programs for young students.
In July 2006, after completing my undergraduate degree, my first job was as a technical engineer at a multinational company for processing and distributing clean water in the Jakarta area. The technical personnel directly supervise and cooperate with 3 field operational teams. In emergency situations, such as in January 2007, during the Jakarta’s flood disaster, we worked 72 hours continuously in the distribution service area to help restore the clean water network and service in Jakarta.
In September 2007, I accepted the new challenge as an EHS practitioner in a mining contractors company. My main task is to lead the implementation of all EHS programs. It takes professionalism and moral obligation to manage the environmental impact and ensure all of employees are productive, safe and healthy. The main challenge is to give mentoring to more than 3,000 employees at the remote mining projects site in Kalimantan, where most of its employees are locals, with different social cultures, and lack of experiences. We can achieved the best results in 2012 and 2013 in achieving annual production targets with Zero Incident. The achievements were given directly from the Minister of Manpower and Transmigration and the Minister of Energy and Mineral Resources.
In June 2017, I led the project for energy efficiency, where we improved the efficiency and effectiveness of wastewater treatment plant (WWTP). As a result, the WWTP can produces effluent water that meets quality standards and can be reused for industrial purpose. This innovation was awarded as the best innovation in the level of group companies.
Indonesia need much improvement to manage solid waste management and wastewater treatment. I will continue to play an active role to synergism between productivity and implementation of environmental management system, then support government to educate companies and local communities to improve their environmental awareness and culture.